what a monster!

Oleh Yunizar Nassyam

Apakah Anda pikir Anak Anda dalam keadaan baik-baik saja? Bahwa tidak perlu ada yang harus Anda kuatirkan tentang dia, semua terlihat berjalan normal. Setiap pagi Anda membukakan pintu mobil untuknya di depan gerbang sekolah, lalu awal sore hari dijemput, kemudian pada sisa-sisa hari sampai hari libur senang melihatnya asyik dengan perangkat gadget yang Anda lengkapi sebagai kebutuhannya.

Anda merasa tidak perlu kuatir, bahwa pendidikan karakternya cukup, bahwa suatu saat ketika pendidikan formalnya selesai, dia akan menjalani kehidupan normal, bekerja dan meneruskan kehidupannya.

Saya malah tidak mengatakan seperti itu, tetapi sebaliknya, anak-anak sekarang adalah monster yang menakutkan. Anda tidak perlu memberinya uang untuk kebutuhan onlinenya lagi. Mereka itu “maling-maling” yang hebat. Seberapa banyak anak-anak sekarang yang tidak mengenal aplikasi peretas sinyal provider?

Tool pencurian gelombang nirkabel koneksi internet dibuat semakin canggih dan hampir ada di setiap perangkat seluler anak Anda.

Mencuri! Ketika anak Anda berhasil meretas sistem tersebut, ia akan mengepalkan tangannya, menghentakkan siku ke bawah… Yesss! Pencurian yang baru saja berhasil dilakukannya dihiasi dengan senyum puas. What a real monster!

Anak nongkrong! Pernah, bukan, memperhatikan sebuah sudut di kompleks Anda? Pada sebuah rumah yang diperlengkapi Wi-Fi sebuah provider, selusinan anak tiap malam mungkin Anda lihat nongkrong dengan enjoy sambil memantangi gadget mereka. Mereka mencuri kuota data orang dengan leluasa.

Just okey! Itu adalah baik-baik saja… Anak saya hebat, bisa meng-hack Wi-Fi orang! Apa salahnya… Pintar, mampu menggunakan perangkat canggih!

Mencuri tetaplah mencuri. Ada hukumnya, paling tidak setelah akhir masa di hadapan sang Khalik. Dulu mencuri adalah sebuah frasa yang menakutkan. Orangtua bisa mengalami kehilangan seluruh muka ketika anaknya ketahuan mencuri. Nilai-nilai local genius, kearifan lokal, serta nilai-nilai transedental mengatakan mencuri adalah perbuatan rendah moral.

Tetapi nilai-nilai terus dan terus mengalami pergesekan. Nilai-nilai itu sendiri tidak mengalami penggerusan, tetapi interaksi manusia dengan arus nilai-nilai baru yang datang membuat banyak nilai mulia yang telah memagar cara hidup orang tergenjet-terpelanting-terinjak-tereposisi.

Mencuri tidak lagi membuat mata membelalak. Semalam di depan saya mereka membagi-bagi software ‘peretas’. Dan semua enjoy memasangnya ke dalam perangkat gadget. Ngantri dengan flash disk. Beberapa hari lalu seorang anak lalu-lalang di depan jalan sana sambil memegang gadget. “Mencobai semua Wi-Fi yang terpasang di rumah orang-orang di kompleks,” katanya.

Apa yang ingin dikatakan dengan ilustrasi ini? Persis seperti judul di atas. Nilai-nilai kearifan tidak pernah mati, berkurang, mengalami kemunduran. Ia hanya tereposisi dan bahkan mengalami terjun bebas. Kita telah mencerabutnya dari fungsinya sebagai pagar-pagar di koridor yang kita lalui di kehidupan sehari-hari.

Local genius, local wisdom atau kearifan lokal adalah nilai-nilai dasar masyarakat. Indonesia surga kearifan lokal. Pada dekade-dekade lampau struktur masyarakat dijaga dengan nilai-nilai itu. Ketika datang nilai-nilai baru, nilai-nilai tersebut diintegrasikan ke dalam struktur kehidupan, kearifan lokal tetap terjaga.

Dulu benturan dengan budaya asing tak semasif sekarang. Ketika kebudayaan India masuk dari sisi barat, kebudayaan lokal mampu menyaringnya.

Tetapi ketika dunia baru datang dengan arus budaya baru dekade ini, yang sangat masif, membuat local genius tergeser. Budaya baru yang masif dan kita sebut Barat menyebabkan akulturasi budaya lokal. Budaya lokal tidak mampu bertahan. Segala aspek kehidupan terkena dan mengalami ketergantungan.

Anak-anak Anda akan menjadi freak di mata temen-teman ketika tidak mengenal game laris Mobile Legens, misalnya, atau tak memiliki aplikasi pencoleng arus data internet dari rumah tetangga. Orangtua kelu-lidah untuk mengatakan, “Jangan, itu milik orang.” Ungkapan-ungkapan mulia kearifan lokal bisa tak relevan lagi untuk memagari anak-anak.

Ketika masih ada satu di antara yang ngantri aplikasi peretas kemarin yang menolak, ia terasa menjadi minoritas yang “lucu”. Budaya baru ini sangat menakutkan, mampu membuat Anda memandang lucu pada pemihak nilai mulia.

Akulturasi sudah terjadi. Local genius tidak lagi bertumbuh, ia tergeser akulturasi. Kearifan lokal atau sering disebut local wisdom adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis (Keraf, 2002). Kearifan lokal didefinisikan sebagai kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah (Gobyah, 2009).

Dari kedua definisi tersebut maka local wisdom dapat diartikan sebagai nilai yang dianggap baik dan benar yang berlangsung secara turun-temurun dan dilaksanakan oleh masyarakat yang bersangkutan sebagai akibat dari adanya interaksi antara manusia dengan lingkungannya.

Cultural identity ini tidak lagi menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri. Kita tidak bisa lagi loyal pada kearifan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh masyarakat sejak lama.

Kemampuan anak Anda mengurangi belanja kuota data adalah good job yang sangat diacungi jempol. Emang gue pikirin… adalah frasa kontra-nilai yang sangat mampu mengakulturasi nilai-nilai kearifan.

Lalu what next? Perspektif di depan sana adalah masyarakat dekade depan tanpa struktur nilai-nilai lokal yang bijak dan… kehancuran masif. Atau judul di atas ada yang menanggapi dengan frasa yang saya sebut ‘kontra-nilai yang akulturatif’ ini: Ngga segitunya kaleee… (*)

LEAVE A REPLY